Kisah yang Apik dan Menarik, Sangat Layak Anda Baca

Halo sahabat foldersukses. Di Senin pagi ini bagaimana kabar Anda? Semuanya baik-baik saja kan, harapan saya begitu.

Berbicara dengan kehidupan, tak hentinya kita selalu ingin lebih maju dan lebih baik lagi dari hari ke hari.

Tapi tantangan hidup begitu keras untuk kita lalui. Tiap hari kita melihat biaya hidup semakin hari semakin naik dan tak pernah turun-turun.

Alhasil kita selalu menyalahkan pemerintah kenapa harga barang naik, kenapa BBM naik, pemerintah tidak adil dan masih banyak lagi keluhan yang sering kita lontarkan.

Daripada mengeluh tanpa ada habis-habisnya, bukankah lebih baik apabila kita meningkatkan penghasilan untuk hidup yang lebih makmur dan lebih sejahtera seperti kisah seorang anak muda berikut ini.

Penasaran seperti apa kisah perjuangannya? Yuk kita simak bersama-sama.

Kisah ini berawal dari kegigihan seorang anak muda yang tanpa mengenal lelah memperjuangkan masa depannya. Farid, mahasiswa fakultas sains dan teknologi yang berasal dari salah satu daerah terpencil jauh dari kota dan keramaian.

Farid berhasil mendapatkan beasiswa bidik misi di kampusnya. Dia memang berasal dari keluarga yang serba tidak berkecukupan. Untuk hidup sehari-hari Farid mengandalkan uang dari beasiswa bidik misinya.

Kebetulan beasiswa bidik misi di kampus baru cair per 6 bulan atau setiap satu semester sekali. Jumlahnya memang tidak banyak namun cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dan kuliahnya.

Tentu saja dengan uang yang tidak banyak ini Farid harus banyak menghemat karena kondisinya tidak memungkinkan bagi dia untuk meminta tambahan uang dari orang tuanya di kampung.

Dia memang bukan dari keluarga yang berada namun tidak pernah sedikit pun mau mendapatkan bantuan secara cuma-cuma dari orang lain.

Bahkan sekedar untuk ditraktir makan pun, Ia harus berdebat cukup lama dengan temannya.
Pada awalnya Farid memang pasrah dengan keadaan dan berusaha fokus untuk belajar.

Namun lama kelamaan semakin meningkatnya harga-harga kebutuhan, Farid mulai tidak kuat dan bermanufer. Dia mulai menjual makanan ringan seperti risoles dan martabak di kampus.

Makanan ringan tersebut dia ambil dari tetangga samping kos, jadi Farid hanya membantu menjualkan dan mendapat komisi.

Metode yang dipergunakan untuk berjualan adalah “kantin kejujuran”. Jadi dagangan yang dibawa dia letakkan di lorong-lorong kampus lalu diberi list harga lalu disediakan tempat uang bagi yang akan membayar.

Satu minggu pertama berjualan memang hasilnya lumayan, paling tidak Farid bisa mendapatkan komisi 10 hingga 15 ribu perhari yang bisa digunakan untuk makan.

Namun minggu-minggu berikutnya semuanya tidak semulus yang diinginkan. Mulai ada pembeli-pembeli curang yang membayar dengan jumlah uang yang tidak sesuai atau bahkan tidak membayar sama sekali.

Farid mulai merugi, terkadang dia tidak mendapatkan komisi sama sekali karena komisi yang seharusnya didapatkan digunakan untuk menutupi sisa kekurangan uang jualan.

Jika sedang apes Farid malah harus nombok karena ternyata jumlah uang yang kurang semakin banyak bahkan hingga melebihi jumlah komisinya.

Pada akhirnya Farid pun menyerah untuk berjualan makanan ringan karena terus-terusan merugi.

Farid tidak menyerah sampai disitu, setelah gagal berjualan akhirnya dia memutuskan untuk bekerja parttime yang tidak memiliki kemungkinan rugi.

Namun Farid menjadi keteteran dengan tugas-tugas kuliahnya, banyak tugas yang tidak berhasil di selesaikan. Dan dampaknya IPK nya pun anjlok drastis.

Pada saat itu Farid hingga mendapatkan teguran dari pihak fakultas dan terancam diputus beasiswanya jika tidak bisa memperbaiki nilainya. Farid berhenti bekerja dan kembali fokus pada kuliahnya.

Dan kembali pada keadaan awal dia harus mengikat perutnya kuat-kuat untuk dapat berhemat.

Hari minggu, Farid mengajak temannya untuk menemaninya membeli tas di pasar pagi karena tas yang digunakannya sudah koyak dan tidak dapat dijahit kembali.

Mereka pun berangkat ke pasar pagi dan bertemu dengan penjual tas yang cocok. Bahannya bagus dan harganya pun cukup murah.

Setelah lama mengobrol penjual tas itu pun menawari mereka untuk menjadi reseller barang dagangannya. Sistemnya tidak perlu membeli stok, hanya jika ada pesanan saja kita akan mengorder pesanan tersebut ke penjual tas.

Temannya yang memang tidak tertarik dengan dunia tersebut pun menolak. Tapi pada waktu itu Farid terlihat bersemangat untuk menjadi reseller dari penjual tas tersebut.

Mulailah Farid menjadi reseller. Pada awalnya Farid hanya menawarkan barang yang dijual hanya dari mulut kemulut. Pada saat itu lumayan ada 1 atau 2 teman yang tertarik.

Untuk 1 tas yang dijual Farid mendapatkan komisi sekitar 15 ribu rupiah. Lama kelamaan Farid mulai berpikir untuk memasarkan barang dagangannya secara online.

Farid pun mulai mempromosikan barang dagangannya melalui sosial media facebook dan blackberry messenger. Responnya cukup baik, meski konsumen yang datang dari kalangan teman namun lama kelamaan semakin banyak teman yang mengetahui dan akhirnya tertarik memesan.

Disinilah salah satu keuntungan yang Farid dapatkan, dia dapat mempromosikan barang dagangannya dengan mudah, kapanpun, dimanapun dan dengan sasaran pasar yang semakin luas. Akhirnya semakin banyak yang tahu, berawal dari teman ke teman menjadi ke teman lainnya.

Banyak orang baru yang datang untuk membeli dan memesan tas dengan Farid.

Karena semakin banyak yang mengetahui pada waktu itu seperti hari keberuntungan bagi Farid. Dia mendapatkan telepon dari nomor tidak dikenal. Ternyata yang menghubungi adalah calon konsumennya yang akan memesan tas untuk souvenir pernikahan sebanyak 1000 pcs.

Orang tersebut menginformasikan mengetahui kontak Farid dari sosial media. Farid sempat tidak percaya pada awalnya , namun setelah dikonfirmasi sekali lagi ternyata betul orang tersebut akan memesan sebanyak 1000 pcs.

Keuntungan yang Farid dapatkan pun hingga jutaan rupiah pada waktu itu. Lama kelamaan semakin banyak yang memesan tas untuk komunitas maupun untuk acara tertentu dengan jumlah yang cukup banyak.

Keuntungan yang didapatkan hingga bisa membeli 1 buah sepeda motor bekas. Meskipun bekas tetap saja harganya mahal hingga mencapai jutaan rupiah.

Farid hanya melakukan 1 tindakan yaitu internet marketing. Dia tidak perlu memproduksi atau membuat barang yang dia jual. Namun keuntungan yang didapatkan cukup banyak.

Hal ini dikarenakan memasarkan produk melalui media internet memang lebih mudah dilakukan dan menguntungkan karena tidak ada batasan waktu dan jarak. Kapanpun dan dimanapun penjual dan pembeli dapat melakukan transaksi jual beli.

Gimana kisahnya sahabat foldersukses? Sangat apik dan menarik bukan.

Dari kisah di atas ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil.

Yang pertama, sikap gigih dan pantang menyerah akan membuahkan hasil yang memuaskan.

Kedua,Jangan pernah takut gagal dan teruslah mencoba karena “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda” .

Ketiga, gunakanlah internet untuk hal-hal yang bermanfaat dan bisa menghasilkan ketimbang kita hanya sibuk di grup-grup untuk membicarakan sesuatu yang tidak berguna dan hanya membuang-buang waktu.


Leave a Reply